Dalam bukunya, Chow Yen Fat, penggila judi seumur hidup dan mengaku pecandu ganja, Joseph Roulet menelusuri asal-usul “judi sebagai agama” ke Tiongkok kuno. Dia mengklaim bahwa “Dewa Judi” adalah sama dengan mereka atau wu agama Tao. Roulet menyatakan bahwa dewa perjudian ini berasal dari Tiongkok kuno selama Dinasti Han. Dan itu bisa dilihat dalam bentuk naga di setiap sudut negeri, melambangkan keberuntungan dan kemakmuran.

Penulis menunjukkan bagaimana ide perjudian menyebar ke seluruh dunia Tiongkok. Meskipun telah menjadi jauh lebih canggih selama bertahun-tahun, Roulet menyatakan bahwa ide dasarnya tetap sama. Menurut Roulet, kunci untuk memahami penjudi adalah bagaimana mereka membayangkan penjudi dalam pikiran mereka sendiri – sebagai binatang. Ini karena manusia tertarik pada hewan yang dapat memberikan rasa aman, oleh karena itu judi menjadi sarana untuk mengamankan rasa aman bagi banyak orang.

Salah satu pepatah terkenal di Tiongkok menghubungkan nilai makanan dengan kehidupan. Dikatakan bahwa makanan yang baik adalah makanan yang membuat umur panjang, sedangkan makanan yang buruk adalah makanan yang membuat hidup singkat. Ini karena ketika seseorang meninggal, nyawanya terpotong, seperti halnya sebuah mobil dikatakan mati ketika didorong ke dalam air. Oleh karena itu, makanan yang baik adalah makanan yang menopang kehidupan dan menyuplai tenaga serta stamina bagi tubuh dan pikiran, seperti halnya sebuah mobil dikatakan mati jika terhempas ke kubangan lumpur. Oleh karena itu, makanan yang baik bukanlah ayam goreng atau keripik kantong; itu seperti seekor kuda.

Keyakinan lain yang dianut oleh masyarakat China adalah bahwa judi bukanlah salah satu bentuk perjudian, melainkan merupakan salah satu bentuk rekreasi. Misalnya, jika seseorang memenangkan jackpot di slot, orang akan percaya bahwa ini karena keberuntungan dan karena itu bukan bentuk perjudian. Tetapi jika seseorang memenangkan seribu poin pada slot, orang-orang sekarang akan mengatakan bahwa ini karena perjudian dan dengan demikian itu merupakan bagian dari hiburan perjudian. Artinya, judi sebenarnya adalah salah satu bentuk rekreasi, dan bukan bentuk kehilangan uang.

Dalam budaya Tionghoa, nama makanan seringkali mengandung arti. Kata untuk makanan dalam bahasa Cina adalah ointai, yang secara harfiah berarti “sisa makanan”. Makanan sisa bukanlah makanan enak. Oleh karena itu, ini bukanlah sesuatu untuk dimakan begitu saja. Sebaliknya, dimakan bersama dengan hal lain seperti daging, ikan, mie, sayur, atau nasi. Di sisi lain, istilah jianbing, secara harfiah berarti “daging sisa”, mengacu pada kelezatan daging dan makanan kaya protein lainnya.

Saat makan sedang disiapkan, ada beberapa bahan penting. Ini termasuk daging, sayuran, dan nasi. Semua ini digabungkan untuk membuat sajian yang lengkap. Ada empat jenis makanan Cina yang penting: sup, tumis, daging dan sayuran, dan lainnya.

Sup adalah bagian penting dari setiap makan, baik siang maupun malam. Mereka bisa dimasak sendiri atau disajikan bersama hidangan utama lainnya. Sup adalah kombinasi jamu, sayur, aneka bumbu, dan bahan lainnya. Banyak orang Tionghoa lebih suka makan sup untuk sarapan pagi daripada makan sesuatu yang lain, seperti roti.

Meskipun istilah “Cina” sering digunakan secara bergantian dengan kata “gemuk”, kedua makanan ini sebenarnya sangat berbeda. Kata “Cina” hanya mengacu pada budaya di balik makanan, serta cara menyiapkannya. Lemak sering dimakan begitu saja bersama dengan bahan lainnya. Saat dicampur dengan makanan lain, lemak menjadi sesuatu yang sama sekali berbeda.